The Untitled

Here's My Rubbish. My Thoughts. My Wish list. My Hope. My Pray. My Ambition. My Everything.

our next episode

my project with my friend

another night in singapore

another night in singapore

I want to hike, build a tent, laugh with friends, drink a cup of hot tea, sing along with a guitar in my hand, and watch the stars and the moon in here, Kashmir.

I want to hike, build a tent, laugh with friends, drink a cup of hot tea, sing along with a guitar in my hand, and watch the stars and the moon in here, Kashmir.

The beauty of Indonesia. Hope one day i’ll have a chance to explore it all !! 

Amateur shot taken from phone’s camera :)

Amateur shot taken from phone’s camera :)

Cinta Dalam Kardus - Memori


"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013." 

Dengan langkah malu-malu, ia datang mendekatiku. Kedua tangannya terlihat memegang sesuatu dibelakang punggungnya. Semakin ia mendekat, semakin jantungku berdebar kencang, nafasku tidak menentu, dan wajahku memerah. Aku ingat sekali raut wajahnya saat itu. Senyum kecilnya menahan malu karena banyak tatapan orang sekitar yang memerhatikan gelagatnya yang canggung. Sesaat setelah ia sampai di hadapanku, ia mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi ia sembunyikan. Sebuah kotak berukuran sedang dengan perpaduan warna biru dan putih yang dihiasi dengan pita perak dan juga bunga mawar putih di atasnya.

“Selamat ulang tahun,” katanya sambil tersenyum. Ia terlihat begitu manis dengan lesung pipit di pipi kanannya.

Momen lima tahun yang lalu itu memang sangat romantis. Aku tidak bisa melupakannya setiap aku melihat kotak itu. Di dalam kotak tersebut masih tersimpan dengan rapi sebuah kamera Diana mini berwarna biru dan hitam yang mempunyai kenangan begitu dalam. Meskipun sudah kutimbun dan kusembunyikan di tempat di mana yang aku tidak ingin temukan. Aku selalu ingin melihatnya. Setiap kali aku melihatnya, sialnya aku selalu teringat akan masa-masa itu. Ingin sekali aku bisa meminta Tuhan untuk memutar waktu. Bodohnya aku membuat keputusan sembrono itu. Menyesal pun percuma, karena mungkin kini ia sudah tersenyum di sisi yang lain. Ya, mungkin kotak itu adalah obat penawar rinduku. Setiap kali aku membuka kotak itu, harum semerbak yang sangat khas membuat ku membayangkan kalau kamu masih di sini. Menemaniku di saat ini. Mengusap air mataku di pipi.

Tapi kali ini, entah setan apa yang sedang ada di sekelilingku. Tanpa aku sadari, angan-angan gila yang mulai menggerayangi otakku dan membuatku ingin segera pergi bergegas menemuimu di tempat dirimu berada sekarang. Dan seolah kegilaan sudah merasuk jiwa ini, tanpa pikir panjang aku pun bergegas pergi.

Aku melihatmu di sana. Tertawa dengannya. Seolah langit memahami apa yang aku rasakan, hujan yang turun membuatku semakin tidak bisa berpikir jernih. Aku pun membiarkan kegilaan mengendalikan segalanya. Aku melangkah dengan pasti ke arahnya. Berniat untuk mengatakan dengan lantang. “Tinggalkan dia. Maafkan aku. Aku masih mencintaimu. Tolong kembalilah padaku. Aku berjanji tidak akan membuat keputusan yang bodoh lagi.”

Tapi langkah demi langkahku seolah terasa begitu berat ketika aku melihatmu perlahan mengeluarkan sebuah kotak yang sepertinya ia kenali. Ya, mirip dengan lima tahun yang lalu. Membatu. Aku hanya bisa menonton dengan mata yang kosong, kaki yang lemas tak berdaya, dan jutaan pisau yang merajam dada. Sambil dengan senyuman khas yang sama, senyuman yang aku sangat rindukan. Senyuman yang dulu hanya milikku. Ia pun berkata dengan tatapan yang tajam kepada wanita itu.

“Menikahlah denganku…”